Ujian Nasional dan Budaya Tidak Jujur

Penyelenggaraan UN

Ujian Nasional 2012 untuk jenjang SMA/SMK sudah selesai minggu kemarin. Minggu depan tepatnya selama tiga hari dari Senin-Rabu, 23-26 April 2012 tinggal UN untuk jenjang SMP/MTs. Sedikit mengevaluasi pelaksanaan UN SMA/SMK kemarin banyak sekali kejadian yang membuat hati ini miris. Sejatinya menurut pemerintah UN dimaksudkan untuk melakukan pemetaan kualitas pendidikan dan bukan satu-satunya penentu kelulusan, namun faktanya telah menimbulkan respon yang luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat dan juga pemerintah daerah. Penolakan terhadap pelaksanaan UN pun terus mengemuka, bahkan sempat di bawa ke ranah hukum dari orang tua dan masyarakat korban UN dan dimenangkan oleh pihak penggugat sebagaimana putusan MA yang meminta menghentikan pelenggaraan UN sampai dengan adanya pemerataan dan peningkatan pendidikan. Namun kelihatannya pemerintah tidak bergeming dengan hasil putusan MA tersebut, dan terus menggelar hajatan UN.

Respon tersebut sangat beragam dari yang positif sampai pada perilaku yang kadang dianggap berlebihan. Respon positif di antaranya, UN dianggap meningkatkan motivasi belajar siswa sebagaimana hasil survai dari kemdiknas, bahwa dari 33 provinsi yang disurvai dengan kuisioner yang dibagikan, 79,1 % mengatakan termotivasi untuk belajar. Namun juga kita harus perhatikan bahwa dari hasil survai tersebut juga terdapat 74,4 % merasa khawatir terhadap kulusan UN (kemdiknas.go.id).

UN Syarat Kepentingan

Di samping rasa kekhawtiran dari ketidaklulusan yang begitu tinggi terhadap kelulusan dari UN sendiri, UN ternyata telah banyak melahirkan ketidakjujran di sana-sini. Baik pada level pemerintahan daerah, pihak sekolah, guru maupun siswa sebagai peserta UN ketika penyelenggaraan UN berlangsung. Pemerintah daerah memiliki kepentingan untuk menjaga citra daerahnya dengan asumsi bahwa apabila tingkat kelulusan tinggi (atau bahkan sampai dengan 100%) dan nilai tinggi, maka prestise daerahnya menjadi naik, sehingga berbagai upaya dilakukan, baik melakukan breefing dengan para pengawas di setiap sub rayon walau dengan alasan sosialisasi, namun secara eksplisit bahkan meminta para pengawas longgar dalam melakukan pengawasan dengan alasan demi masa depan anak.

Menyikapi hal yang demikian, pengawas pun seolah seiya kekata. Hal ini terbukti dengan pembiaran para siswa melakukan contek massal, yang penting tidak gaduh. Kalau berani pengawas melakukan kepengawasn yang super ketat, dipastikan akan bermasalah di kemudian hari. Baik ditegur pihak sekolah setempat, atau sekolah induk maupun mungkin dapat terancam keselamatannya. Dan terkesan akan melawan arus yang ada. Sehingga pembiaran demi pembiaran terus terjadi, pembiaran contek massal dilakukan di antaranya saling ngobrol sesama pengawas maupun mengantuk bahkan tidur ketika melakukan pengawasan.

Pakta integritas dan komitmen kejujuran pada penyelenggaran UN tahun ini baik sebelum penyelenggaraan UN maupun ketika UN berlangsung, terkesan hanya menjadi formalitas belaka. Bahkan soal dengan 5 tipe dengan denah soal yang berbeda tidak menutup celah berlaku tidak jujur. Misalnya dengan menulis denah tipe soal di papan tulis dengan alasan agar siswa tidak bingung dan dapat melakukan cross check dari denah yang ada apakah sudah benar mendapatkan soal sesuai denah. Tapi faktanya justru “mempermudah” siswa untuk tahu dengan siswa mana yang sepaket, sehingga mudah untuk saling bekerja sama.

Menurut pejabat kemendiknas, karena melihat berbagai kecurangan terjadi pada penyelenggaraan UN tahun ini, terutama SMA/SMK (ada kurang lebih 837 laporan, 213 laporan kecuarangan UN), maka tahun depan direncanakan naskah soal akan dibuat 10-20 paket. Pertanyaannya, apakah hal ini dapat mengurangi kecurangan penyelenggaran UN? Dipastikan masih banyak cara mencari celahnya. Karena sekali lagi banyak kepentingan di dalamnya.

UN Sebaiknya Dihapuskan

Melihat berbagai fenomena di atas, dan juga fenomena yang lain yang mungkin tidak terpublis, penulis sepakat bahwa UN dihapuskan saja. Mengapa demikian, karena sejatinya yang terpenting adalah bagaimana meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan dengan upaya yang lebih konkret, misalnya dengan meningkatkan sarana prasarana pendidikan, kualitas guru dan juga siswa sendiri agar menjadi insan pembelajar sepanjang hayat sehingga siap dan mampu berkiprah di masyarakat.

Perlu diingat bahwa kualitas pendidikan belum merata, baik dari sarana dan prasarananya, maupun dari kualitas siswa dan gurunya. Masih banyak sekali kesenjangan di dalamnya, dan sangat tidak mungkin untuk dapat diukur dengan paramater nasional. Bagaimana dengan kondisi sekolah yang jauh di pedalaman Kalimantan, Papua maupun NTT-NTB dan kepulauan lainnya bila dibandingkan dengan sekolah yang berada di perkotaan dengan berbagai fasilitas yang ada.

Evaluasi keberhasilan siswa dalam belajar sebaiknya dikembalikan ke pihak sekolah masing-masing seperti dahulu, sehingga sekolah diberi otoritas untuk meluluskan atau tidak anak didiknya tersebut. Toh sekali lagi yang terpenting, pada akhirnya yang akan menilai masyarakat sendiri yakni sejauh mana tingkat keberperanan dan keterserapan di masyarakat. Niscaya ketika peserta didik dididik dengan benar dan bukan hanya sekedar “mentransfer” ilmu, namun mampu mengubah pola pikir dan perilaku siswa menjadi insan pembelajar dan dapat berkiprah di masyarakat hampir dapat dipastikan inilah sejatinya keberhasilan pendidikan sebenarnya. Dengan demikian kualitas pendidikan dapat semakin baik dan negara kita dapat bersaing dengan negara lain.

Advertisements

About rakhmanh

Saya adalah orang kecil yang hidupnya di ndeso, pengin ikut mewarnai dan berdialektika tentang berbagai hal dunia maya
This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

One Response to Ujian Nasional dan Budaya Tidak Jujur

  1. Mr WordPress says:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s